Cilembu Itu Nama Desa, Bukan Nama Ubinya
Kalau Anda berdiri di Jalan Raya Cilembu dan bertanya ke orang lewat mana Desa Cilembu, mereka akan menunjuk ke arah bukit. Desanya tidak besar. Sekitar tiga ratus lima puluh hektare, di lereng, di Kecamatan Pamulihan, sekitar dua puluh kilometer dari pusat Kabupaten Sumedang.
Yang mengejutkan orang kota biasanya ini: Cilembu bukan nama jenis ubi. Itu nama desanya. Ubinya sendiri punya nama lain.
Dulu namanya nirkum. Konon dari “menir kumpeni” — sebutan untuk orang Belanda — karena ubi jenis ini sering jadi kudapan mereka di masa kolonial. Ada juga yang menyebut jenis eno, katanya diambil dari nama petani yang menanamnya waktu itu. Belakangan muncul varietas rancing, yang sekarang justru paling banyak ditanam.
Jadi kalau Anda membeli “ubi cilembu”, yang Anda beli sebenarnya ubi jalar dari daerah bernama Cilembu, bukan ubi bernama cilembu.
Kenapa nama desa yang justru terkenal
Ini bagian yang menurut saya paling menarik, dan jarang diceritakan orang.
Desa Cilembu sendiri baru berdiri tahun 1982, hasil pemekaran dari Desa Haurngombong. Tapi ubinya sudah ditanam jauh sebelum itu — beberapa petani tua di sana bercerita tradisi menanam ubi dimulai sekitar tahun enam puluhan atau tujuh puluhan.
Yang membuat namanya melompat keluar Sumedang adalah hal yang sekarang terdengar sederhana: desa itu menang lomba desa tingkat nasional, dan ubinya sempat tampil di acara Kelompencapir di TVRI pada era delapan puluhan. Waktu itu televisi cuma satu. Sekali tampil, seluruh Indonesia tahu.
Lalu ada cerita yang lebih tua lagi, yang diwariskan turun-temurun. Katanya seorang pangeran yang sedang menyamar mampir ke Cilembu dan disuguhi ubi kukus. Dia terkejut karena manisnya, lalu meminta air minum — tapi penduduk menjawab kampung mereka susah air. Sejak itu, kata cerita itu, ubi Cilembu jadi manis luar biasa, dan desanya tetap sulit air sampai sekarang.
Bagian tentang air itu bukan legenda. Pertanian di sana memang sangat bergantung hujan.
Bukan cuma Desa Cilembu
Ini yang sering salah dipahami, dan penting untuk pedagang.
Ubi Cilembu punya sertifikat Indikasi Geografis, dan wilayah yang diakui di dalamnya bukan hanya Desa Cilembu. Ada beberapa kecamatan: Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari. Semuanya masih di Kabupaten Sumedang, di kawasan lereng yang mirip.
Artinya ubi dari Tanjungsari atau Rancakalong tetap masuk hitungan, sepanjang memang ditanam di sana. Yang tidak masuk adalah ubi jenis sama yang ditanam jauh dari daerah itu — bibitnya bisa dibawa ke mana saja, tapi tanah dan ketinggiannya tidak.
Desa Cilembu sendiri berada di ketinggian sekitar sembilan ratus meter lebih di atas permukaan laut, di lereng gunung. Petani di sana biasanya menanam sekitar April atau Mei, di lahan bekas panen padi, menjelang tanah mengering.
Kenapa ini perlu Anda tahu
Kalau Anda berjualan ubi, cepat atau lambat akan ada pembeli yang bertanya: ini asli Cilembu bukan?
Pertanyaan itu sebenarnya susah dijawab dengan pasti oleh siapa pun, termasuk oleh pedagang yang jujur. Yang bisa Anda jelaskan adalah dari mana barangnya datang, dan itu jauh lebih berguna daripada berdebat soal kata “asli”.
Kami sendiri gudangnya di Sumedang, dan siapa pun boleh datang melihat.
Artikel ini disusun dari catatan sejarah desa dan keterangan yang beredar di daerah asal. Sebagian, terutama bagian legenda, memang cerita turun-temurun yang tidak bisa dibuktikan — kami tulis apa adanya.